“Buseeeeet…perasaan makan sushi udah dua minggu lalu, kenapa baru sekarang muncul gatel-gatelnya nih??!! Kemaren kita makan apa sih?”, omel neng geulis yang kulitnya mulai bentol-bentol kemerahan.”
“Kemaren kan katering kantor ada bakwan udangnya neng..”, tukas temennya neng geulis.
***
Cerita neng geulis di atas yang alergi dengan beberapa jenis seafood ngga jauh berbeda dengan cerita gw sendiri. Kalau cuma gatal atau bengkak di daerah mata sih itu reaksi yang gw anggap cukup ringan..tapi honestly itu ngeganggu banget..Syukurnya hal itu bisa hilang setelah beberapa jam minum ctm atau dexa. Suatu hari, tubuh gw bereaksi secara berlebihan pada satu jenis ikan laut (saat itu kayanya ditambah dengan gejala psikosomatis). Reaksi alergi terparah gw (berlebihan deh..) adalah pingsan setelah 1 x 24 jam makan ikan kakap asam manis (rasanya kok gw lebay banget..). Setelah itu nyokap dan dokter melarang gw untuk makan ikan laut untuk beberapa bulan ke depan. Kalau nyokap ngasih tenggang waktu lebih lama, 2 tahun. Wuiiih mana tahan…alhasil gw tetap bandel untuk diam-diam makan sushi, hanya satu jenis ikan aja kok Mam, hehehe. (for salmon, my favorite..mana tahaaan)
Oke, simpan dulu cerita alergi ikan laut. Ada cerita lain tentang alergi laut-laut yang lain. Namanya alergi air laut. Wew! baru pernah denger..Yup! diagnosis ini gw dapet seminggu setelah tinggal di salah satu asrama sekolah tingi di daerah Serang, Banten saat sedang melakukan penelitian bersama kampus. Dokter berkata bahwa kulit saya alergi dengan air laut, kemungkinan diakibatkan intensitas kontak yang tinggi dengan air laut yang dipakai mandi selama seminggu.
Faktanya:
1. Nyokap berpikir gatal-gatal itu karena gw ngga nurutin nasehat dia untuk ngga main ke tengah laut. Tapi gw ngeyel karena gw tetap main banana boat dan tercebur ke tengah laut akibat manuver kapal speedboat penarik banana boat gw, hehe.
2. Gw berpikir seharusnya gw ikutan salah satu temen gw yang juga ikut penelitian (seorang penyanyi, artis ibukota) yang mandi pakai berbotol-botol air mineral yang dia beli dari pasar setempat. Sekalian nambahin penghasilan abang tukang becak yang ngangkut kardus-kardus botol air itu dari pasar ke asrama, hehehe.
Alergi selanjutnya..
Gw adalah tipe orang yang menunda untuk pergi ke dokter ketika sakit, sebab alih-alih sembuh dalam waktu cepat, gw takut akan reaksi tubuh gw setelah minum obat, terutama antibiotik. Riwayat medis gw mencatat bahwa sudah ada 4 jenis antibiotik yang ditolak olah tubuh gw. Entah apa maksud si antibodi di dalam tubuh yang bereaksi berlebihan sama zat-zat tersebut. Biasanya reaksi yang muncul adalah gatal-gatal, mata atau bibir bengkak, dan mual yang berlebihan. Kalau sudah begitu, biasanya gw akan membuat si dokter berpikir lebih lama untuk menentukan jenis antibiotik apa yang paling cocok buat gw.
Salah satu teman yang juga punya riwayat alergi merekomendasikan seorang dokter yang alhi di bidang alergi (baru denger ada bidang/spesialis itu, heheh). Nama dokternya Iris Rengganis, beliau berpraktek di RSCM dan RS Pondok Indah. Gw belum sempet kesana sih, hehehe..
Kalau nyokap gw lebih milih pengobatan yang non medis saja terlebih dahulu. Manjur lho..caranya dengan minum susu colostrum setiap hari. Alhasil reaksi alergi gw ngga pernah muncul, walaupun dalam rentang waktu tersebut gw ngga pernah minum antibiotik, jadi belum tau juga khasiatnya selain menghilangkan reaksi alergi yang disebabkan karena ikan laut.
Mungkin tips yang terakhir bisa dikasih tahu ke neng geulis, biar dia ngga gatal-gatal kalau makan udang, hehehe.
Long live healty life!!
