Tags
Kata orang, cuma keledai yang ngelakuin kesalahan untuk kedua kalinya, hahaha.. Bermula dari rasa kantuk yang teramat sangat dan keinginan gw untuk memejamkan mata ketika baru aja melewati jembatan semanggi sepulang dari kantor, setelah itu gw ngga inget apa-apa lagi..
(pengalaman pertama)
“waduh, ini dimana nih? Kok ada fly overnya sih? Ooh, pancoran bawah kali ya? Tapi kok beda ya, perasaan yang di pancoran ga segede ini deh? *lirik kanan kiri sambil tetep sok cool biar ngga dikira kelewatan turun
“tenang mi..tidur lagi deh” *sambil berharap setelah membuka mata lagi bakal ngeliat tempat yang lebih familiar
“mbak..mbak bangun mbak..” (seseorang membangunkan gw dengan latar belakang suara kenek bis “ayo abiis abis abis abiss..”)
“ups..” *baru menyadari bahwa gw terbangun entah dimana-panik “eh, kok ada suara kereta sih? Di Cawang kali ya? Eh ngga mungkin ah”
“mbak ini dimana ya?” “prumpung mbak, ketiduran ya?” “iya, duh Uki jauh ga? “Yaa jauh bgt itu mbak”
Dueeeeng..bagoes, jam 9 malem nih dan gw nyasar entah dimana..akhirnya gw menuruti perkataan si kenek agar gw segera nyebrang dan naik angkot ke arah Uki. Perjalanan kembali ke Uki ditempuh sekitar setengah jam, dan itu melewati Rawamangun, jalan Pemuda, duuuh jauhnyaaa dan stasiun yang tadi ternyata stasiun Jatinegara.
—
Gw masih tertidur, kantuk tak tertahankan..
(pengalaman kedua)
Buka mata, liat kiri kanan, karna udah punya pengalaman sebelumnya, maka gw langsung mengenali bentuk fly over di luar sana. “Huaaaaa….gw ketiduran lagi..dan nyasar ke tempat yang sama”
Dengan sigap gw segera turun dan melakukan tindakan yang tepat untuk segera kembali ke jalur yang benar, lanjuuut “Uki Bang!”
Syukurlah gw sampai Uki dengan selamat dan segera naik bis ke arah Bogor. Tak lupa pula gw bertekad untuk tidak tidur, daripada terjadi pengalaman ketiga. Huff. Benar saja, Tuhan pun mendukung niat gw. Sekejap setelah gw berusaha menyandarkan kepala gw ke kursi tiba-tiba saja seseorang yang duduk di belakang mengguncang-guncang kursi gw. Now whaaat? Seorang nenek dengan bahasa Sunda yang tidak gw mengerti memarahi gw. “Ya nek?” Kata gw berusaha memahami dia..daan yak usaha gw gagal karna gw tetap ngga ngerti apa yang dia katakan. Si nenek tetap berbicara smabil mengacung-acungkan telunjuknya. Kesimpulan gw, nenek itu mungkin ngga setuju kalau gw bersandar ke kursi dan dari bahasa tubuhnya gw merasa kalau dia khawatir kursi gw akan ngegubrak ke belakang dan menimpa dia jika gw bersandar. Mari kita tes kebenarannya..dan gw pun bersandar lagi, daaan gw pun mendapati reaksi serupa, si nenek kembali memarahi gw. Hahaha.. Gw rasa Tuhan sudah mengutus nenek itu untuk membuat gw tetap terjaga dan ngga ketisuran lagi..hehe
Baiklah, mungkin lo bertanya-tanya mengapa tulisan ini diberi judul “13”. “13” adalah singkatan untuk P13, nama bis kota yang gw naiki ketika memperoleh kedua pengalaman itu. Ngga maksud untuk nyambung-nyambungin sih, tapi apa iya kesialan itu berhubungan dengan nomer 13?? Hahaha, ya tentu saja tidak, menurut kepercayaan gw sih ngga berlaku seperti itu, hehehe.
Anyway, ternyata mungkin bagi beberapa orang, angka 13 itu masih tetap diidentikan dengan kesialan lho..sehingga angka itu sebisa mungkin dihindari. Beneran nih, ini ngga hanya berlaku bagi orang-orang awam atau kebanyakan orang biasa, tapi juga para developer gedung di kota Jakarta. Beberapa teman yang gw tanyakan mengatakan bahwa di kantornya tidak ada lantai 13, yang ada setelah lantai 12 langsung skip ke lantai 14 atai didahului 12 A / B, kemudian baru lantai 14. Waw, pertanda apakah ini? Sebesar itu kah kepercayaan orang-orang akan tuah angka itu? Dulu gw ga pernah mengira bahwa sebagian besar orang akan berpikir untuk percaya, tapi sebaliknya ternyata bukti nyatanya gw temukan sebesar itu. Di antara kebisuan gedung-gedung tinggi di Jakarta yang tak berlantai 13. Mungkin kalau lantai 13 itu tetap ada justru akan menimbulkan efek psikologis yang negatif yang membayangi para pekerja yang bekerja di lantai tersebut. Alih-laih rajin kerja malah para pekerja itu gelisah atau mempunyai sugesti negatif akan hal-hal yang mungkin menimpa mereka di lantai itu. Hmm, kalau gitu ada baiknya juga kalau lantai itu ga ada, jadi kinerja karyawan bisa lancar-lancar jaya..
Laaah..mulai deh gw melebar kemana-mana topiknya..heee..udah ah..=p