Secangkir teh filosofi

Pria itu tertegun membaca kalimat-kalimat Rumi. Sambil melihat ke kejauhan ia meneguk secangkir teh dari tangan kirinya. Memaknai jarak dari pandangannya. Menutup bukunya. Meresapi cintanya.

Ia berpindah buku dan membayangkan apa yang dikatakan Kierkegaard jika mengetahui apa yang ia rasakan sekarang. Bagaimana emosi dan perasaannya akan mempengaruhi keputusan hidupnya.

Secangkir tehnya ternayata tidak cukup untuk meresapi semuanya..

Re-Write

It’s been a while…well cukup lama sepertinya sejak terakhir kali menulis. Hmm..dan bisa dibilang banyak perubahan yang akan membuat gaya menulis (mungkin) atau tone tulisan beralih dari afeksi menjadi hal-hal serius lain atau hal-hal ringan lain yang bermanfaat. Saya masih menolak jadi ekstrovert untuk urusan afeksi ;p (postingan jaman dulu biarlah berlalu).

Okay, mari buat rencana list tulisan yang bisa jadi pengingat untuk menulis!

  • Pengalaman assessment ke Sangihe
  • Cerita gateaway after training
  • Lukisan amatiran saya
  • Hmm..maybe something about wedding stuff…😀

Saatnya mulai membayar hutang menulis🙂

Jawaban doa selalu datang.. :)

Saya ingat sebuah tulisan yang saya tulis lebih dari setahun yang lalu, tentang mencari jalan untuk melakukan sesuatu bagi negeri tercinta ini. Tulisan itu seolah sebuah doa dan harapan yang akhirnya terjawab hari ini, eh tepatnya sekitar dua minggu ini. I finally find a way..🙂 Alhamdulillah..

Here’s the story…

Minggu lalu saya hadir dalam sebuah acara peringatan ulang tahun ke sepuluh sebuah yayasan beasiswa, Yayasan Goodwill International. Acara yang dihadiri oleh para pendirinya, sponsor, mahasiswa, instruktur, dan alumni ini seluruhnya dikemas dalam bahasa Inggris karena para pendiri dan sponsornya adalah ekspatriat. Selama duduk di acara itu, saya terus merenungi betapa luar biasanya niat baik para pendiri dan pengelola yayasan yang rela untuk menetap di Indonesia untuk mengembangkan generasi muda di negeri ini. Semoga Yayasan Goodwill International bisa melebarkan sayapnya untuk mengembangkan pemuda Indonesia di penjuru Indonesia yang lain.

Mengapa yayasan ini begitu istimewa di hati saya? Mari menilik kembali cerita tentang teman-teman kita yang pintar, berprestasi, dan aktif berorganisasi, tapi membutuhkan bantuan finansial. Ini adalah cerita umum yang pasti ada di setiap universitas. Bayangkan teman kita yang jauh-jauh datang dari pulau seberang untuk belajar di tempat terbaik di negeri ini, penuh dengan semangat, tetapi kemudian dihadapkan dengan realita biaya pendidikan yang sangat mahal. Saya mungkin bukan orang yang punya cerita sesedih teman-teman saya itu, tapi saya bisa berempati tentang betapa sulitnya situasi yang harus mereka hadapi. Kepekaan dari orang-orang berniat baiklah yang kemudian membawa teman-teman saya itu memperoleh kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Yayasan Goodwill International memberikan bantuan finansial untuk mendukung biaya pendidikan bagi mahasiswa terpilih di Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Tidak seperti yayasan beasiswa yang lain, yayasan ini memberikan pelatihan softskills setiap bulannya selama setahun penuh bagi para penerimanya. Ada sistem reward and punisment yang diterapkan dalam pelatihan tersebut untuk meningkatkan disiplin para penerima beasiswa. Dengan adanya pembekalan softskills, para mahasiswa diharapkan dapat menjadi SDM yang berkualitas, siap bersaing di dunia yang akan dirintis setelah lulus nanti.

Sepuluh tahun berkecimpung dalam program pengembangan generasi muda Indonesia, tentu saja tidak terlepas dari kerja keras dan dedikasi para pengurus yayasan. Meet the chairwoman, Mrs. Mizue Hara. Dari dulu saya selalu berpikir tentang mengapa beliau tidak memilih untuk tinggal di Jepang saja, tinggal di tempat yang lebih teratur, lebih tepat waktu, dan jauh dari hiruk pikuk jalanan serupa Jabodetabek, lebih tenteram rasanya daripada disini. Nyatanya beliau lebih memilih untuk menetap di Indonesia dan mendedikasikan dirinya untuk memimpin yayasan ini. Beliau terlihat sangat mencintai pekerjaannya, kerja kerasnya telah membuat ratusan mahasiswa mendapatkan bantuan dari para sponsor, baik sponsor individual maupun komunitas ekspatriat. Komitmen dan dedikasinya membuat saya terharu. Seluruh keluarga Goodwill pun salut atas dedikasi beliau.

Kembali ke peringatan ulang tahun yang ke sepuluh minggu lalu. Saat itu, ada satu hal yang terus ditekankan bahkan dari sejak awal tahun penerimaan beasiswa :“Remember, you are a future leadear! In the next 10 or 20 years from now, we will see you leading this country, no matter in what fields you are, as long as you work with your heart”. Pesan yang diinternalisasikan kepada seluruh pemuda di ruangan itu adalah harapan yang harus kami petanggungjawabkan. Pesan manis ini membakar semangat saya. Ini adalah sebuah tantangan besar.

***

Isi tulisan di atas adalah inspirasi bagi saya, sebuah tantangan untuk memberikan “sesuatu” untuk negeri ini. Inspirasi yang juga sebuah lecutan untuk rasa tanggung jawab saya. Bayangkan mereka yang merupakan kaum ekspatriat, mau turun tangan langsung untuk mengembangkan pemuda Indonesia. Tidakkah terbersit rasa malu di hati kita? Bagaimana dengan kita? Apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda asli negeri ini, apa yang akan kita berikan untuk negeri ini? Saya membayangkan pendidikan yang merata, lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang  tidak hanya pintar, tetapi juga terampil, dibekali dengan softskills sehingga mampu menjadi SDM yang berkualitas dan mampu memajukan segala sendi kehidupan. Alangkah menyenangkan kalau saya bisa jadi bagian dari perwujudan mimpi itu. Niat yang baik, Insya Allah akan memulai semua itu. Sebuah sekolah? Sebuah yayasan? Amin.

How about you? What is your part as a future leader?  What kind of goodwill that you can give for this nation?

***

SELAMAT MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA KE-81

28 OKTOBER 2009

Jangan cuma semangat saja yang membara sementara, mari ciptakan langkah kongkrit bersama!

 

And here’s the answer…

Nanti saja nulisnya,hahaha *bagian dari diri yg punya self-disclosure rendah terkekeh-kekeh ngga mau cerita😀 haha

 

New year and new…

Akhirnya tahun ini datang juga, tahun dimana gw harus meneruskan rencana-rencana yang tertunda tahun lalu. Well, those big leap..🙂 *tetap menghidupkan mimpi saya yg itu, hehehe…amiiin…Insya Allah🙂 tunggulah saya Ananti, hahaha..

Tapi ternyata sekarang ada big leap yg lain, atau huge leap? hehe…baiklah, awal tahun diawali dengan perubahan rencana besaaar dan akan berpengaruh untuk urutan penyelesaian tugas perkembangan selanjutnya (baca: aktualisasi diri, karier, pendidikan dan percintaan,hahaha). Semoga segalanya lebih baik, lancar dan diridhoi Allah🙂

 

Haduuuh postingan dikit amat!!! *merasa terpacu menulis lagi setelah tugas menulis kemaren diberikan pada saya karna saya mengaku sedang jarang menulis ;p

 

Ngeteh; Nyeruput

Bangun tidur saya ngeteh, kalau pusing saya ngeteh, kalau udara dingin saya ngeteh, kalau stres saya ngeteh, kalau sore saya ngeteh

Ngeteh bikin saya bisa nyeruput minuman dengan tenang, duduk manis dan rileks, entahlah itu otomatis saja, dibanding kalau minum susu yang langsung gelegek-gelegek, atau nyeruput jus pakai sedotan..

Saya akui saya peminum teh tapi tidak tahu begitu dalam tentang teh dan jenis-jenisnya. Hanya tahu tentang teh celup, teh poci, black tea, green tea, white tea, english breakfast, darjeeling, earl grey, tanpa menghayati itu apa atau rasanya bagaimana. Tapi, baru-baru ini saya mendapat insight baru dari ritual ngeteh saya itu.   Saya ngeh mana teh yang nikmat (setingkat di atas enak) dan mana yang biasa saja.

Insight pertama muncul ketika menyadari kenapa segelas teh buatan Bude dan Bulik di Jogja selalu terasa lebih enak. Biasanya beliau-beliau menyeduh teh sebungkus daun-daun teh (bukan teh celup) dengan air mendidih, gelas-gelas seukuran pun disiapkan berderet-deret, diisi gula, dituang tehnya dan diaduk satu persatu. Tapi di sini, di rumah saya, walaupun memakai teknik dan teh yang sama, rasanya tetap saja tidak senikmat yang di Jogja. Hmm… mungkin air-nya yang membuat rasanya beda, hehehe..

Kemudian saya mencari info tentang jenis-jenis teh dan mulai penasaran untuk mencoba meminumnya. Sambil browsing-browsing ketemu lah saya dengan blog ini. Terima kasih ya Pak, saya jadi tahu jenis-jenis teh, kandungannya, mana yang kualitasnya tinggi dan lain-lainnya.. dan perburuan teh pun berlanjut..hmm kapan-kapan saya mampir ke kedai teh Bapak🙂

Suatu hari saya janjian bertemu dengan salah satu teman saya di sebuah kedai. Saat itu saya sedang tidak lapar dan berniat mau minum teh saja. Ternyata di sana disediakan menu white tea, pilihan saya jatuh ke white peony. Dan datanglah pesanan saya…dan ketauan lah masih pemula ketika saya bertanya dimana gulanya, hahaha (white tea memang diminum tanpa harus menggunakan gula). Setelah ngutak-ngutik fungsi alat penyeduh tehnya, berhasil lah saya meminum secangkir teh yang nikmat. Daun-daun white tea tampang lebih kecil dan ramping, ketika dituang, warnanya lebih gelap dari yang saya bayangkan, tadinya saya pikir akan tampak sangat bening. Rasanya? Nikmat! Baru kali ini saya minum teh tanpa gula tapi tanpa rasa pahit dan tetap nikmat. Setelah itu, sensasi rileks dari nyeruput teh secara perlahan pun muncul. Saya tuang lagi teh-nya, ngobrol, lalu nyeruput lagi. Efek nikmatnya bertambah setelah saya lihat kalau ternyata di luar turun hujan. Hmm…nyaman sekali, plus bercanda dengan teman-teman, terutama yang sedang menanti hari pernikahannya. Terima kasih Ya Allah sudah menciptakan daun ajaib ini, hehe..

Setelah itu saya jadi ingin terus menerus mencoba jenis-jenis teh yang lain. Kalau sedang makan di luar saya pasti ngecek apakah ada jenis teh tertentu dalam daftar menunya.  Nah, perburuan akan terus berlanjut, hehehe…

***

Waduh, penat nih, saya banyak kerjaan, butuh secangkir teh dulu nih kayanya, hehehe…

Shopping time : Fabrics and Garments

I always love shopping with my mom. We can spend more than couple hours of shopping. Last week, we spent 3-4 hours in Cipadu, Tangerang. Cipadu is a traditional market not too far away from BSD City. It is actually a market which only sells fabrics and garments. The most important is that the market offers cheaper price than in Bogor. I went there with my mom’s colleagues. They had their own business to buy hundred of meters fabrics for their students. And me? Hehehe…I was just hanging around looking for some cute and nice fabrics.

***

The fabrics, garments, brocade, ribbons always make me excited. They seem to encourage me to be creative, to make something nice to wear. I also like the feel the way the stores arrange their stuff. And I probably as freak as the shopkeeper or the owner in making their stuff tidy.😀

***

So I went around, in and out from store to store. “It wasn’t a good season”, my mom said. Yeah mom, too bad I didn’t find many nice patterns, except the “brokat”. Or It’s just my personal taste. I onIy saw a glimpse of nice pattern, at least one in the corner. Not fell too disappointed, I chose some garments for my next loose trousers, a brown, a blue, and a khaki. They cost 35.000 – 40.000 rupiah for one pair of trouser, for me it was 1,75 meters for each trouser.

trousers fabrics

I didn’t expect any surprise here. But, since my mom and her colleagues bought huge meters of garments, the owner allowed us to pick any fabric that we want. Whooaaa….!!! Not only one, but two! The other owner next door did too. Yeah, I got two for free :D  I chose a broken white one with a little brown polkadot pattern. A simple one for a bow tie or  frills blouse.

brown polkadot

And this one. A small handwriting print. Remind to a punishment that an elementary students used to do when they were naughty is class, hehe. I thought this one was unique for another top or blouse.

handwriting prints

My next purchase was the lovely floral print fabric. It was only 15.000 rupiah per meters! This was a match for a maxy dress, of course!

floral prints

Now it’s time for sketching and let my tailor do the rest!😀